KETIKA TOKEK TAK DAPAT TIDUR

Suatu malam Sang Pemimpin terbangun oleh suara bising dari bawah jendelanya.

“Tokek! Tokeek! Tokeekkk!”

Sang Pemimpin menjulurkan kepalanya keluar jendela. Itu adalah si Tokek.

“Tokek, apa yang sedang kamu lakukan? Ini sudah tengah malam. Pulang dan tidurlah.”

“Aku tak dapat tidur,” jawab si Tokek.

“Kunang-kunang terbang di sekitar rumahku. Mereka bersinar berkelap-kelip. Kau harus menghentikan mereka. Kau adalah pemimpin. Lakukanlah sesuatu.”

“Aku akan berbicara dengan kunang-kunang besok pagi,” kata Sang Pemimpin. “Sekarang pulang dan tidurlah.”

Tokek akhirnya pulang sambil menggerutu. “Tokek…tokeekk…tokek…”

Keesokan harinya Sang Pemimpin memanggil Kunang-kunang.

“Apa benar kalian sudah bersinar berkelap-kelip…sepanjang malam? Apakah kalian membuat Tokek terbangun?”

“Benar,” Kunang-kunang menjawab.

“Kami harus bersinar berkelap-kelip sepanjang malam. Kerbau membuang kotorannya di jalan. Tanpa cahaya kami, orang-orang akan menginjak kotoran kerbau!”

“Kalian sungguh bijaksana,” ujar Sang Pemimpin.

“Tetap lakukanlah apa yang sudah kalian lakukan. Kalian boleh pergi.”

Kunang-kunang terbang kembali ke rumah mereka.

Malam harinya Sang Pemimpin kembali terbangun.

“Tokek! Tokeek! Tookeek!”

Sang Pemimpin menjulurkan kepalanya keluar jendela.

“Tokek, pulang dan tidurlah.”

“Tetapi saya tak dapat tidur. Kunang-kunang masih bersinar berkelap-kelip. Kau bilang kau akan menghentikan mereka.”

“Tokek, kunang-kunang harus memberikan cahaya mereka. Kerbau meninggalkan kotorannya di jalan. Tanpa cahaya kunang-kunang, orang-orang bisa menginjak kotoran kerbau.”

“Kalau begitu bicaralah dengan kerbau. Kau adalah pemimpin. Lakukanlah sesuatu!”

Tokek kembali ke rumahnya sambil menggerutu.

“Tokek…tokeek…tookeeek…”

Pagi harinya Sang Pemimpin memanggil Kerbau.

“Kerbau, apa benar kau meninggalkan kotoranmu di jalan?”

“Oh, ya. Hujan sudah menyebabkan lubang-lubang di jalan setiap sore. Jadi saya mengisi lubang-lubang itu dengan kotoran. Jika tidak, orang-orang akan terperosok dan terluka.”

“Kerbau, kau sungguh bijaksana. Tetap lakukan apa yang sudah kau lakukan. Kau boleh pergi.”

Tengah malam, Sang Pemimpin kembali terbangun.

“Tokek! Tokeek! Tookeekk!”

Sang Pemimpin menjulurkan kepalanya keluar jendela.

“Tokek, pulang dan tidurlah.”

“Aku tidak dapat tidur. Kunang-kunang masih berkelap-kelip di sekitar rumahku. Katamu kau akan MELAKUKAN SESUATU.”

“Kerbau mengisi lubang-lubang di jalan yang disebabkan oleh hujan dengan kotorannya. Kunang-kunang menerangi jalan agar orang tidak menginjak kotoran kerbau. Kau harus menerima dan berdamai dengan kunang-kunang.”

“Kalau begitu bicaralah dengan Hujan! Kau adalah pemimpin. LAKUKANLAH SESUATU!”

Tokek kembali ke rumahnya sambil mengomel.

“Tokek…tokeeek…tookeekk…”

Keesokan paginya Sang Pemimpin memanggil Hujan.

“Apa benar kau yang menyebabkan lubang-lubang di jalan setiap sore?”

“Benar. Aku turun sangat deras setiap sore untuk membuat genangan air bagi nyamuk. Jika genangan itu kering, nyamuk akan mati. Jika nyamuk-nyamuk mati, tidak akan ada makanan untuk Tokek.”

“Begitu,” sahut Sang Pemimpin.

“Hujan, kau boleh pergi.”

Pada tengah malam, Sang Pemimpin mendengar, “Tokek! Tookek! Tookeekk!”

Ia menjulurkan kepalanya keluar jendela.

“Tokek, pulang dan tidurlah!”

“Aku masih tak dapat tidur. Kunang-kunang berkelap-kelip terus…kau bilang kau AKAN MELAKUKAN SESUATU!”

“Tokek, dengar baik-baik. Jika Hujan tidak turun, tidak akan ada genangan air. Jika tak ada genangan air, tak akan ada nyamuk. Jika tak ada nyamuk, KAU, TOKEK, tidak akan ada sesuatu untuk makananmu. Nah, sekarang, bagaimana pendapatmu?”

Tokek berpikir.

Jika Sang Pemimpin menyuruh Hujan berhenti turun.

Kerbau akan berhenti mengisi lubang-lubang di jalan, dan Kunang-kunang akan berhenti memancarkan sinarnya…tetapi Tokek tidak akan memiliki nyamuk untuk dimakan.

“Tokek,” kata Sang Pemimpin.

“Ada beberapa keadaan yang kamu harus menerimanya. Sekarang pulang dan tidurlah.”

Tokekpun pulang ke rumah.

“Tokek…tookekk…tokeek…”

Ia menutup daun jendelanya.

Ia menutup matanya.

Dan iapun jatuh tertidur.

Di luar, Kunang-kunang berkelap-kelip…

 

Berbagai tempat di belahan bumi ini memiliki cerita-cerita rakyat yang berisi kebijaksanaan dan pesan-pesan akan pentingnya kita merawat alam, tidak merusak, serta hidup dalam harmoni dengan berbagai makhluk lain. Segala sesuatu di alam dan kehidupan ini saling berhubungan. Hal tersebut salah satunya digambarkan dalam cerita rakyat dari Bali di atas. Kisah ini juga menyiratkan bahwa gangguan atau ketidaknyamanan kadang harus kita terima.

Terjemahan dari Gecko Cannot Sleep – A folktale from Bali

Earth Care, World Folktales To Talk About by Margaret Read Macdonald

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: