THE WAY OUT IS IN, Mindfulness Retreat Ubud, Bali (Part 1)

Pernahkah Anda mengalami suatu pengalaman yang sangat berkesan, lalu sesudahnya tidak bisa move on dari pengalaman tersebut? Seperti ketika serial televisi kesayangan kita selesai, dan pikiran kita masih dipenuhi oleh bayangan para tokoh pemeran serta jalan ceritanya. Saya baru saja mengalaminya, dan sampai sekarang masih belum 100% pulih kembali. Kejadiannya tepat dua minggu yang lalu.

Tanggal 1 Mei 2019, saya tiba di Bali untuk mengikuti retreat hidup berkesadaran dengan tema The Way Out is In. Retreat ini berlangsung selama lima hari, sejak tanggal 1 dan berakhir tanggal 5 Mei, dibimbing oleh delegasi monastic dari Plum Village. Ini adalah retreat pertama saya dari tradisi Plum Village, yang didirikan oleh Master Zen Thich Nhat Hanh atau yang akrab disapa Thay.

Saya berangkat ke Denpasar dari Semarang, karena sebelum mengikuti retreat saya mengantar ibu saya ke Pati dan menginap dua hari di sana. Sejak sehari sebelumnya, saat masih di Pati, saya bertanya-tanya seperti apa kira-kira retreat itu nanti. Tentunya tidak akan sama dengan retreat yang pernah saya ikuti dari tradisi yang berbeda. Pikiran saya mengembara ke masa depan, membayangkan seperti apa Suly resort tempat retreat nanti, apa saja kegiatannya, dan, yang paling utama adalah, pertanyaan apakah seorang bhante yang sering saya tanyai melalui email akan ikut hadir juga membimbing retreat.

Beberapa bulan ini saya memang sering bertanya melalui email kepada biksu tersebut berkaitan dengan hal-hal yang tidak saya mengerti mengenai Buddhisme. Semuanya berawal dari pertanyaan-pertanyaan saya di website beliau, dan entah kenapa jawaban beliau suatu ketika tidak muncul di kolom komentar tetapi masuk ke email saya. Mungkin tidak sengaja, tapi sejak itu saya lebih suka bertanya melalui email, apalagi jika pertanyaan saya tidak berhubungan dengan artikel beliau di websitenya. Pertanyaan saya cukup intensif, dan beliau selalu menjawab dengan bijaksana. Bahkan saran beliau bisa mengubah cara pandang dan hidup saya. Bukan dalam hal kepercayaan, tetapi beliau dapat membuat saya lebih memiliki pengertian dan toleransi kepada orang lain. Saya merasa memiliki guru spiritual, merasa dekat dengannya, meskipun saya tidak pernah berbicara atau bertanya langsung kepadanya.

Setiap kali terbersit pertanyaan apakah saya akan bertemu beliau di retret nanti, saya berusaha mengembalikan pikiran kembali ke saat ini. Lagipula, siapapun delegasi monastic nanti tidak menjadi masalah bagi saya. Tujuan saya mengikuti retreat adalah berlatih mindfulness atau hidup berkesadaran.

Rabu 1 Mei 2019, pesawat yang saya tumpangi mendarat di Denpasar pukul 16.00 waktu setempat, 30 menit lebih awal dari perkiraan semula. Panitia yang bertugas menjemput sudah ada di bandara. Saya berkenalan dengan teman-teman baru yang akan sama-sama naik jemputan menuju Ubud. Kami masih harus menunggu beberapa teman lagi yang belum tiba, termasuk seorang peserta dari Korea yang bekerja di Bali. Kira-kira pukul 6 sore, kami berangkat menuju Suly Vegetarian resort di Ubud.

Kami seharusnya tiba di Suly pukul 7 malam. Saat itu jalanan lumayan macet, dan menjelang pukul 7 salah seorang panitia menghubungi saya menanyakan jam berapa saya tiba di Suly. Rupanya acara sudah akan dimulai. Kami tiba pukul 7.30, dan setelah pendaftaran ulang serta mengambil name tag, kami langsung menuju Yogasala untuk orientasi.

Dari depan, Suly resort ini terlihat kecil. Tapi setelah melewati resepsionis, kami menyusuri jalan menuju Yogasala yang letaknya di belakang. Tempat ini luas, terdiri dari ruang makan, beberapa gazebo, bangunan-bangunan kamar dan satu gedung 4 lantai tempat kami menginap. Terdapat juga kolam renang dan bangunan piramida yang terletak di tengah sawah. Karena saat itu sudah malam, saya tidak melihat piramida itu.

Saya memasuki ruang Yogasala yang berupa ruang setengah terbuka. Di beberapa titik terdapat kipas angin, membuat aula itu menjadi sejuk. Suhu di Bali saat itu panas, siang hari bisa mencapai 32°C. Dengan masih membawa ransel, saya meletakkan sepatu di rak di samping pintu masuk. Terdapat dua pintu yang masing-masing terletak di kedua ujung ruangan, sebelah kiri dan kanan. Saya masuk dari pintu sebelah kanan. Saat itu orientasi sudah dimulai. Saya melangkah masuk, menuju deretan matras kosong di ujung kanan ruangan. Seseorang di panggung sedang menjelaskan kegiatan selama retreat, dengan bantuan slide. Seketika saya mengenali suaranya. Beliau adalah bhante yang sering saya tanyai itu, dan saya mengenali suaranya karena seringnya saya mendengarkan ceramah dhamma beliau secara online. Pertanyaan saya terjawab sudah.

Saya menyimak orientasi yang berisi aturan-aturan yang harus dijalankan selama retreat, kegiatan, dan yang paling utama adalah, segala sesuatu harus dilakukan dengan mindful. Berjalan dengan penuh kesadaran, makan dengan berkesadaran, berbicara dan mendengar dengan penuh kesadaran. Sejak pukul 21.30 hingga keesokan harinya setelah sarapan dan mencuci piring, berlaku noble silent. Orientasi berlangsung hingga pukul 21.30, dan bhante mengucapkan selamat beristirahat kepada kami semua.

Saya mendapat kamar nomor 133, satu kamar berisi empat orang. Saat saya masuk, tiga teman sekamar saya sudah bersiap-siap untuk tidur. Saya keluar lagi untuk makan malam, lalu kembali ke kamar. Di sini saya mengalami kejadian seperti di dalam mimpi. Dalam kamar itu terdapat satu tempat tidur besar dan satu tempat tidur susun. Kebetulan saya mendapat tempat di atas. Saya mengatakan kepada teman sekamar saya, tidak masalah bagi saya tidur di tempat tidur atas. Dengan pede,  setelah selesai bersih diri, saya menaiki tangga tempat tidur. Kalau waktu di jalanan menuju Demak saya mengalami dejavu, kali ini saya mengalami saat seperti sedang dalam mimpi.

Sering dalam mimpi saya, saat menaiki tangga, entah tangga apapun itu, tangga di mall, bandara, atau ruangan di lantai atas, kondisinya sangat mengerikan. Sempit, jarak anak tangga yang satu dengan yang lain berjauhan, dan rasanya terasa berat untuk naik. Jadi saya harus berusaha keras supaya bisa mencapai atas. Nah, tangga di tempat tidur ini punya kondisi yang sama persis. Saya harus berusaha keras mengangkat tubuh saya yang rasanya berat sekali. Salah seorang teman sekamar memperhatikan saya, wajahnya menunjukkan rasa khawatir. Dia menawarkan untuk bertukar tempat, tapi saya tolak. Sampai di atas rasanya saya ingin tertawa. Saya tidak pernah menyangka situasi di dalam mimpi bisa benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Sempat timbul rasa panik saat berada di atas, seperti perasaan takut pada ketinggian. Tapi sejak kapan saya punya perasaan itu? Dan saya masih harus menghadapi ini tiga malam ke depan.

Malam pertama saya tidak dapat tidur. Barangkali karena badan terlalu capek. Ditambah lagi saya harus terus menerus mengingatkan diri saya supaya besok pagi tidak langsung turun dari tempat tidur, tapi harus melewati tangga dulu. Karena malamnya tidak dapat tidur, keesokan harinya saya mengantuk, terutama pada saat Dharma Talk yang dibawakan oleh Br. Phap Kam.

Jpeg
Yogasala

bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: