THE WAY OUT IS IN; Mindfulness Reatreat Ubud, Bali (Part 2)

Photo by Suhartono

Kamis, 2 Mei 2019

I Have Arrived, I Am Home

Pukul 5 pagi, wake up bel berbunyi. Pukul 5.30 kami menuju Yogasala. Selama 30 menit, kami meditasi duduk. Saya masih sangat mengantuk, sampai-sampai saya tidak berani memejamkan mata karena pasti saya akan tertidur. Saat itu saya hanya duduk, mendengarkan segala suara yang ada di sekitar Yogasala. Beberapa menit kemudian, kira-kira pukul 6 kurang, saya mendengar seperti suara musik. Lebih tepatnya, musik tradisional Bali. Mula-mula terdengar samar-samar, tapi kemudian suara itu semakin jelas. Tidak keras, tapi cukup jelas. Lalu kemudian, berhenti. Suasana kembali hening, hanya terdengar kicauan burung dan suara denting alat makan dari kejauhan. Hingga akhirnya, suara bel tanda sesi meditasi duduk telah selesai.

Selanjutnya kami mendengarkan chanting pagi, yang dibawakan oleh para monastic. Sesi berikutnya adalah meditasi jalan. Kebiasaan saya adalah, berjalan terlalu cepat. Tetapi dalam meditasi jalan yang dilakukan bersama-sama ini, kami tidak boleh berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat. Kami harus tetap bersama, dalam satu kelompok, tidak ada yang tertinggal atau berjalan lebih dulu. Energi mindfulness itu terasa kuat jika dilakukan bersama-sama. Saat melangkah, ucapkan dalam hati, I have arrived. Lalu langkah berikutnya, I am home.

Saya memang merasa sudah tiba di tujuan. Saya sudah di rumah. Saat berjalan, yang kita lakukan hanya berjalan. Kita sering berjalan dengan kepala kita, bukan dengan kaki, demikian kata Br. Phap Tu. Artinya, saat berjalan, pikiran kita sudah sampai di tujuan. Kami semua keluar dari Yogasala, berkumpul di samping kolam renang. Seorang Brother memimpin kami berjalan, dan kami mengikuti. Langkah yang lambat terkadang membuat tubuh jadi tidak seimbang. Awalnya saya sulit melangkah sambil menghitung; bagi saya dengan mengucapkan kata-kata I have arrived, I am home dalam hati, terasa lebih mudah.

 

W05-Tirta_(33)[1]
Walking Meditation, Photo by Tirta

Sambil berjalan, saya memperhatikan keadaan sekeliling Suly resort. Kali ini saya melihat bangunan piramida yang letaknya agak jauh, dikelilingi sawah. Bunga-bunga bermekaran, suasana hening, hanya terdengar suara burung dan langkah kaki yang lembut. Segalanya terasa indah, indah sebagaimana adanya. Gapura, daun, pohon, awan, semuanya indah. Di salah satu anak tangga dekat dengan resepsionis, saya membaca tulisan PEACE.

Di sebuah tempat yang agak luas, di depan gapura, kami berhenti. Brother yang memimpin kami meditasi jalan, kali ini membimbing kami melakukan 10 gerakan berkesadaran. Setelah itu kami melanjutkan berjalan, sampai ke tepi kolam renang, lalu membubarkan diri.

W36-Tirta_(69)[1]
10 Mindful Movements, photo by Tirta

W47Tirta (101)

Pukul 7.30 kami sarapan, yang ternyata makanannya sangat, sangat lezat, dan semuanya adalah menu vegetarian. Selama itu, dari sejak bangun, kami masih melakukan noble silent. Kami tidak berbicara, dan melakukan segala sesuatu dengan hening. Noble silent tidak hanya berarti tidak berbicara melalui mulut saja, tetapi juga berarti pikiran hening.

 

There is honey in your eyes,

When you look without hunger

There is sunshine in your face

When your mind is pure

Feathers in your hands,

When you touch without taking

And petals on your feet when you walk with joy

Music in your voice when you speak with laughter

And moonlight in your sleep

When your heart is free

 

Lima belas menit menjelang pukul 10, kami menuju Yogasala untuk mendengarkan Dharma Talk. Sambil menunggu yang lain hadir, seorang Sister memimpin kami bernyanyi lagu-lagu Plum Village. Lagu pertama adalah Breathing In, Breathing Out. Meskipun melodinya sederhana, namun syair lagu-lagu Plum Village memiliki makna yang dalam serta memiliki makna meditatif.

Jika Anda melihat Sister Luong Nghiem, atau yang dalam Bahasa Inggris berarti Goodness, Anda tidak akan dapat mengalihkan pandangan darinya. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Seperti ada sejuta bintang di matanya yang selalu tersenyum itu. Ada orang yang ketika bibirnya tersenyum, tapi matanya tidak. Tetapi Sister Goodness, tidak hanya bibirnya yang selalu menyunggingkan senyum. Mata dan keseluruhan gerak geriknya memancarkan kelembutan dan keteduhan. Ternyata tidak hanya saya saja yang senang melihatnya. Teman sekamar sayapun setuju kalau Sister Goodness memiliki wajah yang menyenangkan. Kami sepakat sebelum retreat ini berakhir, kami akan berfoto bersama dengan beliau.

Pada saat Dharma Talk ini, kami semua berkumpul di Yogasala. Tetapi ada sesi lain, yaitu Dharma Sharing. Dalam Dharma Sharing, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok berjumlah sekitar 20 orang, dan masing-masing kelompok akan didampingi oleh seorang monastic. Kalau tidak salah ada sembilan orang monastic, yang berasal dari Indonesia, Thailand, dan Hongkong. Kelompok peserta yang berbahasa Inggris akan didampingi oleh monastic yang berbahasa Inggris pula. Berarti jumlah kelompok ada sembilan, dan diberi nama seperti nama-nama tempat di Bali. Kuta, Jimbaran, Besakih, dan sebagainya. Saya masuk dalam kelompok Kuta.

Di luar tembok Yogasala, sudah tertulis pengumuman nama-nama monastic yang akan mendampingi masing-masing kelompok, serta tempat sharing. Kelompok saya, Kuta, mendapat tempat di lantai dua ruang makan. Saat saya membaca nama monastic yang akan mendampingi kelompok Kuta, saya hampir-hampir tidak percaya. Saya sampai harus mengulang membacanya tiga kali. Nope, bukan Sister Goodness. Tetapi Brother. Brother yang selama ini saya hujani dengan pertanyaan melalui email! Benar-benar sebuah kebetulan yang luar biasa. Saya sampai mencoba menghitung menggunakan teori probabilitas. Oke, taruhlah bukan sembilan kelompok, tetapi lima kelompok yang berbahasa Indonesia, lalu dipilih secara acak brother dan sister yang berasal dari Indonesia, berapa kemungkinannya?

Sesi dharma sharing di lantai dua ruang makan akan diadakan pukul 3 sore, setelah relaksasi. Akankah saya bisa bertanya nanti? Pada saat Dharma Talk, yang dibawakan oleh Br. Phap Kam, terpikir oleh saya beberapa pertanyaan. Selebihnya, saya berjuang keras melawan rasa kantuk. Semilir angin, udara pagi itu yang mulai terasa panas, ditambah lagi kurang tidur, rasanya bisa membuat saya tidur pulas dalam keadaan berdiri sekalipun. Tentu saja saat Dharma Talk itu kami semua duduk, dan itu justru membuat saya semakin gelisah karena mengantuk dan kaki yang mulai terasa pegal.

Selesai Dharma Talk, pukul 12, kami makan siang. Selesai makan saya langsung melesat ke kamar untuk mandi. Udara benar-benar panas dan siraman air sangat membantu menyegarkan diri. Setelah ini akan ada relaksasi total atau meditasi baring pukul 13.30. Ini merupakan sesi favorit. Saya pernah bertanya, bagaimana caranya agar pada saat relaksasi total, kita tidak sampai tertidur. Tetapi siang ini saya tidak peduli apakah saya bakalan tertidur atau tidak. Saya justru berharap saya akan tidur sampai jam 3 nanti.

 

Kau berandai-andai tentang kekuatan supernatural yang mengatur pertemuan kita yang luar biasa di beranda hotel. Menurutku, pertemuan-pertemuan kebetulan semacam itu hanyalah kejadian acak yang tak direncanakan atau dikendalikan dengan cara apapun. Memang benar yang satu ini merupakan sebuah kebetulan dahsyat dan bukanlah kejadian remeh. Namun, kau juga harus memperhitungkan seluruh hari lain saat kita tak mengalami hal seperti ini.

Dunia ini bukanlah mosaic kejadian acak, Steinn. Segala hal di dunia ini berhubungan. (Jostein Gaarder, The Castle in The Pyrenees) 

 bersambung…

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: