BOOKS CHALLENGE 2019

Sejak kecil saya senang membaca. Kesenangan itu ditularkan dan diajarkan dari orang tua saya. Dulu, setiap malam sebelum tidur, ayah atau ibu saya akan membacakan cerita. Entah dari buku anak-anak, majalah, atau mereka bercerita tentang masa kecil. Terkadang juga mereka mengarang cerita, tidak jelas sumbernya dari mana.

Mendengarkan mereka bercerita merupakan keasyikan tersendiri bagi saya. Sambil mendengar, saya akan membayangkan tokoh-tokoh dalam cerita, tiap dialog, tiap adegan; seperti sebuah film yang sedang diputar di kepala saya.

Saya tergila-gila pada cerita, pada dongeng. Sering setelah dibacakan buku, saya pura-pura tidur. Tak lama setelah ayah atau ibu saya meninggalkan saya di kamar, saya akan keluar dengan wajah segar bugar, minta diantar ke kamar lagi, dan tentu saja, minta dibacakan cerita lagi! 

Setelah bisa membaca, saya tak bisa lepas dari buku. Saya masih ingat buku ‘tebal’ dan tanpa gambar pertama saya adalah serial Sapta Siaga karya Enid Blyton. Sejak itu, berbagai buku karya penulis-penulis seperti Hector Malot, Mark Twain, Charles Dickens, Laura Ingals Wilder, Hans Christian Andersen, Alfred Hitchcock hingga Karl May, menjadi santapan saya sehari-hari.

Saya paling senang ketika pulang sekolah, saya mampir ke kantor orang tua saya. Di seberang kantor ada sebuah toko buku. Bangunannya tua, tidak besar, dan di dalam ruangan agak gelap. Debu tipis menyelubungi plastik segel buku. Tidak banyak orang yang berbelanja di sini. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja tulis, berfungsi juga sebagai meja kasir untuk membayar buku. Saya sering melihat seorang bapak setengah baya duduk di belakang meja itu sambil membaca. Barangkali dia adalah pemilik toko ini. Sikapnya tak peduli, tapi saya selalu merasa diawasi ke manapun saya bergerak di ruangan itu. Barangkali dia curiga dengan anak berseragam SD yang datang sendirian, sibuk mengelilingi rak-rak buku dan membuka-buka buku sekilas.

Dua hal yang saya sukai dari toko buku itu adalah, di situ merupakan satu-satunya toko buku yang menjual buku-buku karya Karl May. Buku-buku lawas itu malah ada beberapa yang masih dicetak dengan ejaan lama. Tapi saya tak peduli. Biarpun agak kesulitan, saya akan tetap membaca dan menikmati kisah petualangan Winnetou dan Old Shatterhand.

Saat saya membawa buku-buku itu ke meja kasir untuk membayar, bapak ‘pengawas’ itu menatap saya dengan heran. Mungkin saya satu-satunya anak yang membaca kisah Winnetou, buku lama pula.
“Suka baca ini?” saya cuma mengangguk-angguk. Terus terang saya agak takut padanya.
“Ya, ya, ini cerita-cerita bagus,” katanya lagi. Sikapnya melunak. Sejak itu sikapnya berubah, ia jadi lebih ramah tiap kali saya datang.

Hal lain selain buku Karl May yang saya suka dari toko itu adalah coklat. Toko itu terdiri dari dua ruangan, satu sebagai toko buku dan ruang satunya menyediakan mesin foto copy dan jajanan, termasuk coklat. Selesai membeli buku saya akan ke ruang sebelah membeli coklat. Saya selalu antusias dan bersemangat, tiap kali dua benda itu ada di tangan. Buku dan coklat 

O ya, nama toko buku yang kini sudah menjadi kenangan itu adalah toko buku Politeia. Belakangan saya baru mengetahui, Politeia adalah judul buku yang ditulis Plato. Di dalamnya ada perumpamaan yang sangat terkenal, Alegori Gua Plato. Barangkali bapak ‘pengawas’ atau pemilik toko Politeia adalah penggemar buku-buku filsafat.

Tsundoku

Hobby membaca saya terbawa hingga dewasa. Tidak seperti dulu, sekarang ini membeli buku jauh lebih mudah. Selain toko buku besar seperti Gramedia yang tersebar di mana-mana, kini membeli buku bisa secara online. Lihat judul, baca sinopsis, transfer, tinggal duduk manis, sehari atau dua hari kemudian buku sudah sampai di alamat kita. Bahkan buku-buku dengan tema yang dulu sulit didapat karena tidak tersedia di toko buku offline, sekarang bisa didapat secara online.

Kemudahan membeli buku membuat saya makin giat beli buku, meskipun entah kapan waktu untuk membacanya. Setiap kali membeli buku saya selalu berpikir, yang penting beli dulu, daripada nanti tidak beredar lagi atau tidak diterbitkan lagi. Ini menyebabkan buku yang belum sempat dibaca di rumah jadi bertumpuk. Satu hal lagi, saya lebih suka bentuk buku konvensional dibandingkan e-book. Membaca e-book yang menggunakan layar lebih cepat membuat mata lelah. Lagipula, ada sensasi menyenangkan ketika mencium bau kertas saat membuka buku baru 

Selain buku-buku yang belum sempat dibaca sama sekali, ada juga beberapa buku yang belum tuntas dibaca. Saat sedang membaca satu buku, saya tergiur untuk membaca buku yang lain. Buku-buku itu tidak hanya novel atau fiksi, tetapi kini saya lebih banyak membeli dan membaca buku non fiksi atau biografi.

Ternyata kebiasaan saya membeli buku dan tidak sempat membacanya, memiliki istilah. Tsundoku, yang berasal dari bahasa Jepang. Kata tsundoku berasal dari dua kata, yaitu tsunde-oku yang berarti “dibiarkan menumpuk untuk nanti” dan dokusho, yang artinya “membaca buku”. Jika digabungkan, tsundoku dapat diartikan sebagai membeli bahan bacaan dan menumpuknya.

Seorang pengajar dari University of London, Andrew Gerstle mengatakan, istilah tsundoku pertama kali ditemukan di teks bahasa Jepang pada tahun 1879, yaitu pada Zaman Meiji.

Istilah tsundoku sering dianggap sama dengan istilah dalam bahasa Inggris, bibliomania. Padahal kedua istilah ini memiliki sedikit perbedaan. Bibliomania adalah istilah untuk orang yang membeli buku untuk dikoleksi, tanpa berniat membacanya. Hmm…barangkali untuk dijadikan sekedar hiasan atau bagian dari dekorasi rumah.

Books Challenge
Tentu saja, membeli buku tanpa dibaca, tidak ada gunanya. Juga, membaca tanpa menguji, serta melaksanakan ilmu dari buku, tak ada faedahnya. Buku adalah jendela dunia; tapi sekumpulan buku yang tak tersentuh untuk dibaca dan diamalkan adalah sekumpulan ilmu yang mati. Buku adalah benda mati, kitalah yang menghidupkannya.

Awal tahun 2019, saya bertekad untuk berhenti menjadi tsundoku. Kebetulan, seorang sahabat saya yang tinggal di Jambi, punya hobby membaca pula. Kami sama-sama punya sifat tamak akan buku. Saya juga memiliki komunitas yang rata-rata anggotanya juga gemar membaca. Dalam artian, mereka benar-benar membaca buku yang mereka beli, tidak seperti saya.

Suatu hari di bulan Januari 2019, buku pesanan karya guru favorit saya tiba. Bermaksud hendak pamer, saya foto buku tersebut dan saya kirim kepada teman saya. Dari situlah berawal books challenge. Setiap buku yang selesai dibaca, difoto, ditulis jumlah halamannya. Bulan Desember 2019, dikalkulasi jumlah buku yang dibaca pada tahun ini.

Buku-buku yang tuntas saya baca sepanjang tahun 2019, adalah :

1. The Hobbit – J.R.R Tolkien (348 halaman)
2. Nektar Zen – Bhante Nyanabhadra (218 halaman)
3. Zen and The Finest World – Hendrick Tan (230 halaman)
4. The Death of Ivan Ilyich – Leo Tolstoy (103 halaman)
5. Zen’s Mind, Beginner’s Mind – Shunryu Suzuki (158 halaman)
6. Falling is Flying – Ajahn Brahm, Shifu Guo Jun (136 halaman)
7. Keajaiban Hidup Sadar – Thich Nhat Hanh (158 halaman)
8. The Castle in The Pyrenees – Jostein Gaarder (294 halaman)
9. Mencari Ke Dalam, Zen dan Kehidupan Yang Meditatif – Reza A. Wattimena (167 halaman)
10. Cacing dan Kotoran Kesayangannya – Ajahn Brahm (94 halaman)
11. Kebijaksanaan Yang Membahagiakan – Yongey Mingyur Rinpoche (361 halaman)
12. Biographic Novel Dalai Lama Ke 14 – Tetsu Saiwai (209 halaman)
13. Sapiens – Yuval Noah Harari (513 halaman)

Masih banyak tumpukan buku di rumah yang belum sempat dibaca. Tahun 2020, books challenge masih terus berlanjut.

Antilibrary

Istilah antilibrary pertama kali saya baca di buku best seller The Black Swan, karya Nassim Nicholas Taleb. Taleb, seorang penulis, ahli statistik; memberikan istilah untuk buku-buku di rak-rak rumah kita yang belum sempat dibaca dengan istilah antilibrary. Menurutnya, hidup dengan dikelilingi antilibrary tidak berarti negatif, justru sebaliknya.

Umberto Eco, penulis, profesor semiotika di Universitas Bologna Italia, memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi bukunya sebanyak 30.000 buku. Tak diragukan lagi, Umberto Eco memang memiliki pengetahuan yang luas, namun ternyata, belum semua bukunya itu dibacanya. Beberapa yang mengunjunginya dan melihat koleksi bukunya, menyadari jika beliau memiliki buku sebanyak itu bukan karena sudah membaca semuanya, tetapi karena beliau berhasrat membaca buku melebihi dari yang ia sanggup.

Nassim Taleb mengatakan, antilibrary ini membuat kita selalu ingat, bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui. Memiliki sederet buku yang sudah pernah kita baca ibarat sederetan thropy yang hanya akan memperbesar ego kita, membuat kita merasa tahu segalanya. Dengan adanya antilibrary, dengan menyadari bahwa apa yang kita ketahui hanyalah sedikit, akan selalu menumbuhkan rasa ingin tahu kita sehingga kita tetap selalu belajar, sekaligus menumbuhkan sikap rendah hati.

Ternyata, menjadi tsundoku tidak buruk juga. Dengan tetap melanjutkan books challenge di tahun 2020 ini, sikap yang juga perlu ditambahkan, yaitu sikap Pikiran Pemula (beginner’s mind). Dengan adanya books challenge ini juga memotivasi saya untuk fokus dan konsisten membaca hingga satu buku tuntas dibaca.

Terima kasih untuk teman, sahabat sekaligus guru saya dari Jambi _/\_

Keep greed on books 🙂

Referensi :

https://bobo.grid.id/read/081884720/sering-membeli-buku-tapi-tidak-dibaca-wah-ternyata-ada-istilahnya?page=all

https://bigthink.com/personal-growth/do-i-own-too-many-books?rebelltitem=1#rebelltitem1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: